Wednesday, April 23, 2014

Dian: Darah Pertamaku untuk Mengamputasi Kaki



Bulan ini saya kembali mendonorkan darah. Entah sudah kali keberapa, tapi saya selalu bahagia saat melakukannya. Ah, andai saya tak mengalami peristiwa itu, mungkin sampai sekarang saya tak akan pernah mendonorkan darah.

Pengalaman donor darah pertama terjadi pada bulan Juni 2009. Sayangnya, donor darah saat itu gagal. Saat lengan kiri ditusuk, tak ada satu tetes pun darah yang keluar. Saat jarum dipindah ke lengan kanan, darah yang keluar hanya mencapai setengah kantong. Petugas PMI tidak mengabulkan permintaan saya untuk menusuk ulang lengan kiri. Sayang sekali. Padahal, harga kantong darah itu lumayan mahal. Sejak saat itulah, saya meredam keinginan untuk mendonorkan darah. Ketimbang merugikan PMI?

Sampai suatu ketika pada momen halal bihalal sekolah, September 2009, kesempatan donor darah kembali datang. Saat itu, salah satu guru di sekolah, Pak Catur, mencari orang yang bersedia mendonorkan darah untuk ayahnya.

Memang, sejak beberapa minggu sebelumnya, ayah Pak Catur sakit diabetes dan diopname di rumah sakit. Ternyata, kondisi ayah Pak Catur tidak kunjung membaik. Bahkan, luka di kaki kanannya semakin memburuk, yang mengharuskannya diamputasi. Sungguh, itu kabar yang mengejutkan di hari pertama kami masuk sekolah setelah libur puasa dan Lebaran. 

Sayangnya, pada bulan Ramadan dan Lebaran, stok darah di PMI memang menipis, karena jarang ada pendonor. Hal itulah yang membuat Pak Catur kesulitan mencari darah untuk ayahnya. 

Pada acara halal bihalal sekolah, beberapa guru menanyakan golongan darah siswa untuk didonorkan pada ayah Pak Catur. Ayah Pak Catur memerlukan empat kantong darah bergolongan B. Dua kantong darah sudah diperoleh dari kerabatnya. Berarti masih diperlukan dua kantong darah lagi.

Meski banyak guru dan siswa yang bergolongan darah B, tak banyak dari mereka yang memenuhi syarat mendonorkan darah. Ada yang berat badannya kurang, tekanan darah terlalu tinggi, sampai yang takut ditusuk jarum. Kebetulan golongan darah saya B, tapi “trauma” gagal donor masih membayangi.

Berkat dukungan dari teman dan beberapa guru, saya berniat mencoba mendonorkan darah lagi. Selain saya, ada satu siswa lagi yang juga bersedia mendonorkan darah.
Sepulang sekolah, kami bergegas menuju Semarang. Dari sekolah saya yang berada di Kabupaten Demak, diperlukan waktu sekitar satu jam perjalanan menuju Semarang. Di sepanjang perjalanan, pikiran saya digelayuti rasa khawatir akan kegagalan mendonorkan darah. Tapi, berkat motivasi dari teman-teman di sekolah, saya optimistis donor darah kali ini akan berhasil.

Sebelum mendonorkan darah, kami mampir di Rumah Sakit Sultan Agung untuk menengok ayah Pak Catur. Setelah itu, kami menuju PMI Semarang di Jalan Bulu untuk pengambilan darah. Sepanjang pengambilan darah, saya terus berdoa agar donor kali ini berhasil. Beruntung, petugas PMI turut menenangkan saya dan mengajak berbincang. 

Ternyata, donor darah saya berhasil. Sekantong cairan berwarna merah telah keluar dari tubuh saya. Cairan bernama darah itulah yang digunakan untuk operasi amputasi ayah Pak Catur, yang semoga bisa memperpanjang umurnya.

Saya sangat bahagia. Sejak saat itu, saya bertekat akan rutin mendonorkan darah, tanggal 7 setiap tiga bulan sekali. Bisa di mana saja, donor darah massal di kampus, mobil PMI, atau mendatangi PMI secara langsung. Semoga darah saya bisa menyelamatkan nyawa orang lain.(sumber foto: pseifebundip.org)

No comments:

Post a Comment