Monday, April 28, 2014

Yono: PMI-Ku Selektif dan Komunikatif

Dibutuhkan tekad yang kuat memang untuk melakukan donor  darah. Utamanya dari diri sendiri. Karena tak sedikit pertanyaan-pertanyaan bernada negatif   muncul  dari orang-orang di sekitar  saat  aku akan donor darah :  bagaimana kalau tiba-tiba darahnya  tidak bisa diambil, apakah jarum suntik yang dipakai untuk donor darah itu aman, apakah semua darah yang ditransfusikan  dari PMI itu sehat dan  tak mengandung bibit penyakit ? Kalau mendengar pertanyaan seperti itu, biasanya sih  aku tak mau menjawabnya langsung. Apalagi sampai debat kusir. Percuma. Untuk memberikan informasi yang positif tentang donor darah, saat  ada kegiatan donor darah yang akan kuikuti, mereka kuajak serta.

***
Seperti kejadian beberapa bulan yang lalu saat Kantor Wilayah tempatku bekerja mengadakan kegiatan bakti sosial donor darah. Bisa ditebak hanya orang-orang itu saja, termasuk aku,  yang mendaftar jadi pesertanya. Inilah saatnya mengenalkan arti positif donor darah, pikirku saat itu. Dengan alasan akan kutraktir  makan siang, orang-orang yang bermulut negatif  itu pun  kuajak ke tempat donor darah.

Siang itu ruangan tempat donor darah sudah lumayan ramai.  Setelah mengisi formulir,  cek tekanan darah dan Hb, ternyata aku dinyatakan lolos  untuk donor darah. Alhamdulillah, ucapku dalam hati.

Sambil  menunggu antrian untuk diambil darah, kulihat ada temanku yang sekantor gagal untuk donor darah. Ada yang karena  Hb nya terlalu rendah. Karena penasaran, aku pun bertanya kepada petugas PMI yang  ada di dekatku.

 “ Pak, kenapa sih darah yang Hb nya rendah kok nggak bisa ikut donor ?”

Yang kutanya hanya tersenyum simpul. Membuat aku tambah penasaran.

 “ Hb  itu  vitaminnya darah, Mas. Lha kalau darah tak ada vitaminnya, kosong melompong, untuk apa didonorkan ? Kasihan kan orang-orang yang menerima transfusi darah ?”

Mumpung bisa bertanya banyak, saat itu juga kutanyakan tentang jarum untuk mengambil darah. Dijelaskan bahwa jarum yang dipakai adalah jarum sekali pakai, habis dipakai langsung dibuang.  Aku dan teman-teman  yang mendengarkan penjelasannya  langsung manggut-manggut, tanda  telah paham prosedur donor darah yang sebenarnya. Ternyata PMI sangat  selektif  dalam mengelola darah dari para pendonornya kan ?

***
Lain lagi kisah yang dialami oleh teman SMA ku  ini. Sebut saja namanya Hasan. Saat dia sedang santai sambil leyeh-leyeh, tiba-tiba Pak  Pos datang menghampirinya.

“ Pooos...”

Hasan bergegas menghampiri Pak Pos dan menerima surat yang ditujukan kepadanya. Di  amplop putih yang dipegangnya, tercetak logo dan kop surat dari Palang Merah Indonesia (PMI). Pelan-pelan dibukanya surat itu, dan matanya terbelalak kaget saat dia membaca kata demi kata yang ditulis oleh pegawai Unit Transfusi Darah PMI. Inti suratnya  yaitu bahwa PMI tidak dapat menggunakan darah yang telah didonorkan oleh  Hasan beberapa  bulan yang lalu. Karena darahnya mengandung virus Hepatitis B.

Saat Hasan menceritakan kisahnya dan minta jalan keluar dariku atas penyakit  hepatitis B nya, saat itu aku langsung berkata dalam hati : ternyata PMI sangat komunikatif terhadap para pendonor darah. Mau menerima darahnya, ternyata PMI juga mau memberitahukan penyakit apa saja yang diderita oleh para pendonor. Tentu saja hal tersebut dilakukan secara tertutup, karena hal seperti ini merupakan rahasia ppribadi para pendonor.

So, kenapa mesti takut untuk donor darah ?

No comments:

Post a Comment