Monday, April 21, 2014

Yogi: PMI dari kacamataku

“Silahkan berbaring di tempat tidur Dek. Rileks saja ya” kata seorang wanita. Aku pun mengikuti perintahnya dan kemudian bertanya, “Bakal sakit gak bu ?” Wanita ini hanya membalas dengan sebuah senyuman manis.

Namaku Yogi Yhuwono anggota PMR SMAN 1 Tumpang, Malang. Hari ini menjadi hari pertamaku merasakan bagaimana proses donor darah. Rasa gemetar tak pernah hilang sejak aku menuliskan namaku di blanko peserta donor, ibarat akan melakukan sebuah perang besar sepertinya.

Setelah ujian praktek selesai, aku bergegas menyempatkan diri ke UKS. Antri beberapa menit dan langsung melakukan penimbangan badan sekaligus cek jenis darah. Kutemui wanita berkerudung dengan pakaian yang bertuliskan Palang Merah Indonesia. Dia menyuruhku berbaring di kasur UKS. Entah apa yang dia oleskan di siku dalamku, namun aku merasakan dingin disana.

“Di genggam erat tangannya” katanya padaku.

“Bu jangan sakit sakit ya. Saya ini gak pernah disuntik bu walaupun sudah kelas 3 SMA, takut aja gitu” balasku. Dia pun tertawa dan berucap “silahkan di liat Dek tangannya”.

Aku mengalihkan perhatianku, dan alhasil kutemukan jarum cukup besar menusuk pembuluh arteri dan menyalurkan darah ke selang bening. “Wah ibu bikin surprise aja, ini jarum kok bisa tiba tiba nongol disini” kataku keheranan.

“Nah gak sakit kan? Jadi mulai sekarang jangan takut buat donor darah ya. Barangkali diluar sana orang lain perlu banget sama darah adek ini” dia menjelaskan dengan terus memegang kantong darah.

Aku mengayunkan kepalaku pertanda setuju “Iya bu, itu darah darah yang di taruh di gelas reaksi buat apa ya ?”.

“Ini untuk diperiksa di laboratorium Dek, biar yang pakai darah ga ketular penyakit yang ditemukan di darah donor” katanya.

Akhirnya aku berfikir, kalau dalam menolong seseorang itu tak boleh pamrih, harus ikhlas. Jangan donorkan darahmu kalau kamu harus menularkan sebuah penyakit ke orang lain, mungkin awalnya satu masalah akan selesai namun akan berakhir dengan masalah yang lain.

“Ini udah penuh” ucapnya dan memperlihatkan padaku begitu cekatannya ibu ini memperlakukan selang selang itu. “Makasih ya bu,” kataku sambil membawa sekantong makanan ringan pemberiannya. Dengan tersenyum dia berkata “Sama sama adek”.

Keluar dari UKS aku menemukan temanku bernama Gangga dengan wajah pucat dan berkeringat. Aku berfikir tubuhnya terlalu responsif karena adanya pengurangan volume darah. Dengan dibantu teman yang lain, aku baringkan dia di sebuah kursi panjang. Seperti yang biasa aku lakukan saat seseorang pingsan, aku lepas ikat pinggangnya dan aku oleskan minyak kayu putih di perut dan rahang atasnya. Kemudian bapak bapak berkumis dari PMI mengambilkan teh hangat dari kantin untuk diminum Gangga, dan akhirnya dia sudah tak terlihat pucat dan kembali bugar.


Hari ini aku belajar banyak, kehidupan itu seperti komputer. Harus ada input, output, dan transmiter sebagai penghubung. Dari kejadian mengambilkan teh tadi, aku melihat ada seseorang yang perlu untuk ditolong, ada yang menolong, dan ada yang menyalurkan pertolongan. Disini aku mengerti, PMI akan datang bukan untuk dirinya, bukan untuk siapapun, tapi untuk orang yang perlu dengan bantuannya.

No comments:

Post a Comment